Speech Delay pada Anak, Bisakah Dicegah di Era Digital Ini?

Speech delay pada anak memang menjadi momok bagi para orang tua. Apalagi, di era digital yang apa-apa semuanya serba gadget. Bila anak terlambat bicara, ia akan sulit mengekspresikan dirinya, yang akhirnya bisa memicu rasa stres hingga berujung pada gangguan psikologis dan perkembangan. Ayah dan Bunda tentu tidak mau hal tersebut terjadi pada si Kecil, bukan?

Tipe Speech Delay pada Anak

Speech Delay Pada Anak

Speech delay bisa terjadi karena dua hal, yaitu ketidakmampuan otak untuk mengolah informasi menjadi kata dan keterlambatan otak dalam mengolah informasi verbal.

Sebelum membahas lebih lanjut apa saja ciri-ciri anak speech delay serta bagaimana cara mengatasi anak speech delay, Ayah dan Bunda perlu mengetahui tipe speech delay pada anak. Dalam dunia medis, terdapat dua tipe speech delay pada anak, yaitu reseptif dan ekspresif.

  1. Speech delay reseptif itu berarti ada proses ketidaksempurnaan pengolahan informasi atau data oleh otak. 
  2. Speech delay ekspresif adalah keterlambatan bicara untuk proses pengeluaran data berupa kata-kata setelah mengolah informasi.

Baca Juga : 5 Rahasia Ayah dan Bunda Mencegah Anak Kecanduan Gadget

Ciri-ciri Speech Delay pada Anak

Orang tua terkadang baru menyadari atau menganggap anaknya mengalami speech delay ketika usianya sudah besar karena belum juga bisa berbicara dengan baik. Mereka pun kerap mengira itu diakibatkan oleh tipe speech delay ekspresif. 

Padahal, ciri-ciri speech delay pada anak sebenarnya sudah bisa dipantau sejak bayi, terutama bila speech delay yang dialami adalah tipe yang reseptif. Hanya saja, orang tua cenderung tidak menyadari. Mereka biasanya berpikir, ‘Oh, nanti bisa kali dengan sendirinya, jadi tungguin aja.

Biasanya, orang tua akan mulai bertanya-tanya saat usia anak mencapai 1,5 tahun. Kenapa, ya anakku masih belum lancar berbicara?

Itulah mengapa Ayah dan Bunda perlu mengetahui ciri-ciri anak speech delay serta faktor yang memengaruhinya terlebih dahulu. Misalnya, jika si Kecil tidak melakukan kontak mata, tidak mencari sumber suara, atau tidak merespons suara maupun kata-kata, maka itu merupakan ciri-ciri anak speech delay tipe reseptif. Faktornya sendiri bermacam-macam, bisa karena keterlambatan mental (IQ rendah) atau ada gangguan perkembangan lain, seperti ADHD dan autisme. 

Speech delay bisa juga terjadi karena si Kecil kekurangan stimulasi pada otaknya. Stimulasi bisa diberikan sejak si Kecil masih di dalam kandungan, lho. Kemampuan pendengaran si Kecil juga akan diperiksa untuk mendeteksi apakah terdapat gangguan pendengaran. Bila setelah dievaluasi tidak ada masalah yang disebutkan seperti sebelumnya, maka si Kecil bisa saja mengalami tipe speech delay ekspresif akibat kurang stimulasi atau rangsangan.

Baca juga : Mainan vs Gadget, Bagaimana Efeknya terhadap Perkembangan Otak Anak?

Sebagai contoh, anak seharusnya sudah mengeluarkan bunyi-bunyian dan merespons bunyi-bunyian yang diperdengarkan kepadanya di usia 2 bulan. Kemudian, di usia 4-6 bulan anak mulai bisa babbling atau menirukan kata-kata. Di usia 7-8 bulan, ia sudah bisa menyebut suku kata, seperti ‘ma-ma-ma’ dan ‘ba-ba-ba’. Bila ternyata pada kisaran rentang usia yang sudah ditentukan anak tidak juga bisa melakukannya, maka ada kemungkinan ia mengalami speech delay.

Penanganan Cepat Speech Delay pada Anak, Akan Semakin Baik

Orang tua tidak boleh boleh mengabaikan tanda speech delay pada anak. Pasalnya, permasalahan ini sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Speech delay pada anak yang benar-benar murni karena speech delay ekspresif itu saja sudah membuat dia stres karena tidak bisa mengekspresikan apa yang dia rasakan dan apa yang dia inginkan. Ini bisa membuat anak jadi mudah tantrum karena dia merasa orang di sekitar dia tidak paham dengan apa yang dia inginkan.

Untuk itu, bila orang tua sudah mendeteksi ciri-ciri speech delay pada anak, maka segeralah berkonsultasi kepada dokter. Bila sudah diketahui penyebabnya, dokter anak akan bekerja sama dengan dokter spesialis KFR (kedokteran fisik dan rehabilitasi) untuk memberikan terapi kepada anak. Jenis terapi dan lamanya waktu terapi bergantung pada tipe speech delay dan kondisi setiap anak.

Semakin cepat ditangani, maka respons terapi akan lebih baik, proses terapi semakin singkat, serta sembuhnya bisa lebih cepat. Kalau kemampuan bicara anak lebih cepat membaik, harapannya gangguan psikologis dan gangguan perkembangan yang lain bisa lebih cepat ditangani juga. Anak bisa lebih cepat berkomunikasi dan mengekspresikan apa yang dia rasa dan inginkan.

Apabila anak mengalami speech delay tipe reseptif, maka orang tua perlu lebih sabar dan lebih lembut dalam menghadapi buah hatinya. Namun bila ternyata yang dialami adalah speech delay tipe ekspresif, maka disarankan orang tua lebih tegas mengajak anak untuk lebih aktif berbicara.

Misalnya, ketika anak menunjuk hal atau benda yang diinginkannya, alih-alih langsung memberikan benda tersebut, orang tua bisa bertanya, “Kamu mau apa, Nak? Bunda tidak mengerti kalau kamu tidak bilang sama Bunda.” Dengan begitu, anak pun akan terlatih dan terbiasa untuk menyampaikan apa yang ia inginkan melalui kata-kata. 

Bisakah Speech Delay pada Anak Dicegah, Terutama di Era Digital Ini?

 Speech delay bisa juga terjadi karena si Kecil kekurangan stimulasi pada otaknya. Stimulasi bisa diberikan sejak si Kecil masih di dalam kandungan, lho.

Untuk tipe speech delay ekspresif, jawabannya amat sangat bisa dicegah! Yuk, simak beberapa langkah untuk mencegah speech delay pada anak.

  • Ajak anak mengobrol

orang tua harus aktif mengajak anak bicara, bahkan sejak ia bayi. Ayah dan Bunda bisa mengumpamakan Anak sebagai kertas putih polos. Jadi, dia akan meniru orang-orang di sekitarnya, salah satunya bicara. So, untuk memancing anak agar meniru, Ayah dan Bunda harus proaktif dengan dirinya, termasuk dengan mengajaknya berbicara.

  • Hindari berbicara dengan dicadelkan

Ketika mengobrol dengan si Kecil, hindari menggunakan bahasa bayi atau sengaja dicadel-cadelkan. Contohnya ketika menyebut kata susu menjadi cucu, agar ia tidak salah menangkap informasi. 

Saat membacakan dongeng atau buku cerita bergambar juga bisa menjadi sarana anak belajar bicara. Namun, Ayah dan Bunda perlu berhati-hati memberikan anak buku pengenalan hewan-hewan yang bisa mengeluarkan suara hewan. Ditakutkan, anak malah akan menyebutkan hewan berdasarkan suaranya, bukan nama si Hewan.

Biasakan untuk terus mengingatkan nama hewan sebelum dan sesudah menirukan suara hewan. Cara ini efektif untuk membuat si Kecil lebih mengingat apa yang Ia pelajari.

  • Hindari memberikan akses digital terlalu dini kepada anak

Terakhir, di era digital ini, gadget rasanya tidak bisa lepas dari keseharian. Namun bila digunakan secara tidak tepat dan berlebihan, bisa memicu masalah, salah satunya speech delay pada anak. Pasalnya, gadget bersifat pasif, yakni hanya memberikan informasi, tetapi tidak merangsang anak untuk merespons dalam bentuk kata-kata. Alhasil, anak menjadi tidak terbiasa untuk mengeluarkan bahasa ekspresifnya.

Era digital memang merupakan tantangan tersendiri bagi orang tua, apalagi sekarang saat tren work from home (WFH) sedang naik-naiknya. Anak kan melihat orang tua sebagai sumber kebahagiaan dia. Tapi pada saat orang tuanya bekerja di rumah, jadi stres sendiri karena dia bisa melihat orang tuanya, tapi tidak bisa bermain dengan mereka. Terkadang, anak malah jadi mencari perhatian. Karena mencari perhatian, tidak sedikit orang tua yang memberikan gadget sebagai jalan pintas menenangkan si Kecil.

Padahal, berdasarkan rekomendasi dari IDAI dan WHO, anak baru boleh diperkenalkan pada gadget di usia 18 bulan. Itu artinya, anak sebaiknya tidak terpapar gadget sebelum usia tersebut.

Ketika memasuki usia 18 bulan, anak pun hanya diperbolehkan menggunakan gadget selama 30 menit per hari dengan pendampingan. Jadi, gadget hanya menjadi media, sementara orang tua tetap berkomunikasi dengan anak agar bahasa ekspresif anak tetap keluar.

 

Konten Terkait

x

Dapatkan Produk Kami di Sini:

Ayo, Jadi Bagian dari Keluarga Cussons!